Desa Drajat di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, menunjukkan pola ekonomi khas wilayah pesisir yang mengalami transformasi bertahap. Selain dikenal sebagai kawasan wisata religi, desa ini juga bertumpu pada sektor kelautan dan aktivitas ekonomi berbasis sumber daya pesisir.
Struktur ekonomi lokal didominasi oleh nelayan tradisional, pengelola tambak, serta pelaku usaha kecil yang bergerak dalam pengolahan hasil laut. Aktivitas penangkapan ikan berlangsung harian dengan skala usaha mikro hingga menengah. Komoditas utama meliputi ikan laut, rajungan, dan hasil tangkapan musiman yang kemudian dipasarkan di wilayah sekitar maupun ke luar daerah.
Transformasi mulai terlihat pada munculnya UMKM berbasis olahan hasil laut. Produk seperti ikan asap, kerupuk ikan, dan olahan berbasis rajungan menjadi bagian dari rantai nilai yang memperpanjang siklus ekonomi lokal. Pola ini mengurangi ketergantungan pada penjualan bahan mentah serta meningkatkan margin keuntungan masyarakat.
Interaksi antara sektor perikanan dan wisata religi menghasilkan efek ekonomi ganda. Arus peziarah menciptakan pasar langsung bagi produk UMKM, sehingga distribusi tidak sepenuhnya bergantung pada jalur konvensional. Hal ini membentuk ekosistem ekonomi yang relatif adaptif terhadap fluktuasi pasar.
Namun, terdapat kendala struktural yang masih terlihat. Keterbatasan teknologi pengolahan, akses terhadap pembiayaan, serta standar kualitas produk menjadi faktor pembatas dalam ekspansi pasar yang lebih luas. Selain itu, perubahan iklim dan kondisi laut turut memengaruhi stabilitas hasil tangkapan nelayan.
Pendekatan pengembangan berbasis integrasi sektor menjadi relevan dalam konteks ini. Penguatan kapasitas UMKM, modernisasi alat tangkap, serta pengelolaan pesisir yang berkelanjutan berpotensi meningkatkan daya saing Desa Drajat sebagai kawasan ekonomi pesisir yang resilien.